Uang jajan anak SMP: berapa yang wajar?
Belum ada survei nasional tentang besarnya. Yang ada: cara menghitungnya dari kebutuhan anak sendiri, dan alasan uang mingguan cocok untuk usia SMP.
Uang jajan mingguan adalah uang rutin dari orang tua yang diberikan sekali seminggu untuk keperluan anak selama lima hari sekolah, lalu diatur sendiri oleh anak.
Begitu anak masuk SMP, uang jajan anak SMP biasanya perlu dihitung ulang. Sekolahnya sering lebih jauh, ada ongkos angkot atau ojek, dan jajan bersama teman jadi bagian dari hari sekolah.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan usia 15 sampai 17 tahun hanya 51,68 persen, tergolong rendah. Usia itu segera dimasuki anak SMP. Lalu, berapa yang wajar, dan bagaimana memberikannya supaya anak ikut belajar mengatur uang?
Berapa uang jajan anak SMP yang wajar?
Sejauh ini belum ada survei nasional tentang besarnya uang jajan anak SMP. Angka yang beredar, misalnya Rp10 ribu sampai Rp30 ribu sehari di CNBC Indonesia (Desember 2025), adalah saran penulis artikel, bukan hasil survei.
Pasalnya, kebutuhan tiap anak berbeda jauh. Anak yang naik ojek setiap hari butuh lebih banyak daripada anak yang berjalan kaki dan mendapat makan siang dari program Makan Bergizi Gratis di sekolahnya.
Jadi titik awal yang paling jujur adalah daftar pengeluaran anak sendiri. Angkanya mengikuti kebutuhan, bukan mengikuti rumah tetangga.
Kenapa anak SMP cocok menerima uang mingguan?
Capaian pembelajaran matematika SMP (Fase D) meminta siswa memakai operasi hitung dan perkiraan untuk menyelesaikan masalah, termasuk masalah literasi finansial. Kemampuan itu bisa dilatih pada uang satu minggu, bukan hanya uang satu hari.
Namun, jangka satu bulan masih terasa jauh. Lee dan rekan (2013) meneliti 622 remaja berusia 12 sampai 17 tahun di Belanda dengan pilihan uang yang hanya dibayangkan.
Bagi anak 12 sampai 13 tahun di jalur sekolah umum, €50 yang baru diterima sebulan lagi rata-rata hanya senilai sekitar €27 hari ini. Studi ini dari Belanda dan memakai uang khayalan, jadi angkanya belum tentu sama untuk anak Indonesia.
Tetapi temuannya memberi petunjuk. Bagi anak awal SMP, uang yang baru cair sebulan lagi terasa jauh lebih kecil, sehingga satu minggu adalah langkah yang lebih masuk akal.
Bagaimana kalau uangnya habis sebelum Jumat?
Ini wajar di minggu-minggu pertama. Godaan untuk menambah uang di hari Rabu memang besar, tetapi tambahan seperti itu membuat jadwal Senin kehilangan artinya.
Kidd, Palmeri, dan Aslin (2013) menemukan anak prasekolah di Amerika Serikat menunggu jauh lebih lama setelah orang dewasa di sekitarnya terbukti menepati janji. Anak dalam studi itu jauh lebih kecil, tetapi pelajarannya bisa dipakai: jadwal yang selalu ditepati membuat rencana terasa ada gunanya.
Kalau uangnya habis karena kebutuhan nyata, misalnya ongkos naik, ubah daftarnya bersama anak untuk minggu berikutnya. Yang berubah adalah rencananya, bukan janjinya.
Tiga hal yang bisa dicoba di rumah
- Tulis daftar pengeluaran seminggu bersama anak. Misalnya ongkos Rp8 ribu dan jajan Rp7 ribu sehari menjadi Rp75 ribu untuk lima hari sekolah.
- Berikan setiap Senin, bukan setiap pagi. Kalau uangnya cukup sampai Jumat selama sebulan, coba naikkan menjadi dua mingguan.
- Sisihkan bagian untuk satu tujuan. Rp15 ribu seminggu untuk buku seharga Rp60 ribu berarti empat minggu, cukup dekat untuk ditunggu.
Di JarSave, orang tua menentukan anggarannya, anak menabung untuk keinginan yang disetujui, dan yang tetap di toples mendapat bunga setiap bulan.

