JarSaveBLOG

Bolehkah uang jajan anak dipotong kalau ia nakal?

Potongan memang bekerja sesaat, tetapi penelitian menunjuk pujian dan akibat yang wajar sebagai cara yang lebih kuat, dan tabungan anak sebaiknya tidak pernah disentuh.

JarSave Team ·

Hukuman berupa potongan, dalam psikologi disebut response cost, adalah mengambil sebagian poin, token, atau uang yang sudah dimiliki anak setiap kali ia melanggar aturan.

Saat anak memukul adiknya atau membanting pintu, banyak orang tua spontan mengancam akan memotong uang jajannya. Reaksi itu wajar, karena hasilnya terasa cepat dan anak langsung diam.

Tinjauan Patty Leijten dan rekan (2019) atas 154 uji coba program pengasuhan menunjuk ke arah lain. Pujian dan akibat yang wajar justru terkait dengan efek yang lebih kuat. Lalu, apakah memotong uang jajan memang cara yang tepat?

Apakah potongan benar-benar bekerja?

Dalam jangka pendek, ya. Brian Iwata dan Jon Bailey (1974) menguji dua sistem token di sebuah kelas di Amerika Serikat. Sistem pertama memberi token untuk perilaku baik, sistem kedua mengambil token setiap kali anak melanggar.

Keduanya kurang lebih sama efektif menekan pelanggaran aturan. Tinjauan Soares dan rekan (2016) atas 28 studi dengan 90 peserta juga menemukan bahwa menambahkan potongan tidak membuat hasilnya lebih baik.

Perlu dicatat, semua studi ini meneliti token di kelas, bukan uang jajan di rumah. Penelitian langsung tentang memotong uang jajan anak belum ditemukan.

Kalau sama efektif, apa bedanya?

Bedanya ada pada orang dewasanya. Dalam studi Iwata dan Bailey, hanya sistem hadiah yang membuat guru lebih sering mengucapkan komentar positif, sedangkan sistem potongan membuat perhatian tertuju pada kesalahan.

Ada juga risiko untuk tabungan. Celeste Kidd dan rekan (2013) menemukan anak menunggu jauh lebih lama setelah orang dewasa di sekitarnya terbukti menepati janji. Dari temuan itu kita bisa menduga, kalau isi celengan bisa hilang karena kenakalan, menabung terasa seperti taruhan.

Apakah usia anak berpengaruh?

Ternyata ya. Anna van Duijvenvoorde dan rekan (2008) meneliti cara anak di Belanda belajar dari umpan balik. Anak berusia 8 sampai 9 tahun belajar lebih buruk dari umpan balik negatif dibanding yang positif.

Orang dewasa tidak menunjukkan perbedaan itu, dan pergeserannya terjadi di usia 11 sampai 13 tahun. Studi ini memakai tugas belajar di laboratorium, bukan hukuman di rumah, tetapi cukup menjadi alasan untuk berhati-hati dengan potongan pada anak usia SD.

Kalau tidak dipotong, lalu apa?

Tinjauan Leijten tadi menunjuk dua bahan yang paling kuat: pujian atas perilaku yang benar, dan akibat yang wajar. Akibat yang wajar artinya berhubungan langsung dengan kesalahannya.

Mainan yang dilempar disimpan sampai besok, dan sepeda yang dibawa keluar pagar tanpa izin istirahat sehari. Uang baru ikut terlibat kalau kesalahannya memang soal uang, misalnya merusak barang teman lalu ikut menggantinya.

Ada pengecualian. Pada 8 anak kelas 1 sampai 3 di Amerika Serikat yang punya masalah perilaku, Linda Pfiffner dan Susan O'Leary (1987) menemukan pujian saja tidak cukup. Akibat negatif tetap dibutuhkan, lalu dikurangi perlahan.

Tiga hal yang bisa dicoba di rumah

Di JarSave, poin anak hanya berkurang saat ia membelanjakannya untuk keinginannya sendiri, atau saat orang tua membetulkan catatan yang keliru. Tidak ada tombol hukuman, sehingga isi toplesnya selalu bisa dipercaya.

TagUang jajanImbalanRisetTips