Family office keluarga biasa: kapan anak siap memegang uang keluarga?
Cara kerja family office untuk keluarga pemilik usaha: anak ikut memiliki sejak dini, kendali menyusul, dengan empat ambang kesiapan menurut usia.
Family office adalah kantor atau tim yang mengurus kekayaan sebuah keluarga lintas generasi, termasuk aturan siapa memiliki dan siapa memutuskan.
Anak yang tumbuh di keluarga pemilik toko, kebun, atau usaha kecil biasanya melihat uang keluarga sejak dini, dari laci kasir sampai obrolan soal stok. Ia melihat uangnya, tetapi jarang diajak memahaminya, padahal keluarga kaya menyiapkan anaknya lewat family office.
Survei PwC tahun 2018 terhadap bisnis keluarga di Indonesia mencatat 81 persen berencana menyerahkan usahanya ke generasi berikutnya. Hanya 13 persen yang punya rencana suksesi tertulis dan sudah dibicarakan.
Lalu, kapan anak siap ikut memegang uang keluarga? Cara kerja family office memberi jawaban yang bisa dipakai keluarga biasa.
Apa itu family office, dan kenapa keluarga biasa perlu?
Family office adalah kantor yang mengurus kekayaan sebuah keluarga lintas generasi. Yang penting darinya bukan kantornya, melainkan aturannya: siapa memiliki, siapa memutuskan, dan kapan kendali berpindah.
Prinsipnya sederhana. Anak boleh ikut memiliki sejak kecil supaya bunga berbunga bekerja untuknya, tetapi kendali baru diberikan setelah ia siap memegangnya.
Roy Williams dan Vic Preisser, konsultan kekayaan dari Amerika Serikat, mengamati lebih dari 3.000 keluarga kaya untuk buku Preparing Heirs (2003). Mereka melaporkan 70 persen perpindahan kekayaan gagal pada generasi berikutnya.
Penyebab terbesarnya bukan salah investasi. Sebanyak 60 persen karena kepercayaan dan komunikasi keluarga yang retak, dan 25 persen karena ahli waris tidak disiapkan. Angka ini berasal dari konsultan, bukan jurnal ilmiah, jadi pakai sebagai petunjuk.
Ambang apa yang harus dicapai anak?
Biro perlindungan konsumen keuangan Amerika Serikat (CFPB) dalam laporan 2016 membagi kemampuan finansial anak menjadi tiga tahap. Usia 3 sampai 5 tahun membangun kemampuan menunggu dan merencanakan, usia 6 sampai 12 tahun membentuk kebiasaan dengan meniru orang dewasa di sekitarnya.
Usia 13 sampai 21 tahun baru mulai mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan. Sebelumnya, David Whitebread dan Sue Bingham dari University of Cambridge (2013) meninjau berbagai studi untuk lembaga nasihat keuangan Inggris. Temuannya, anak sekitar tujuh tahun umumnya sudah bisa menghitung uang, merencanakan, dan menunda keputusan.
Dari situ, keluarga bisa menetapkan empat ambang. Anak kecil mengenal usaha keluarga dan belajar menunggu untuk keinginannya. Remaja bisa membaca laporan keuangan sederhana, misalnya pemasukan dan pengeluaran toko sebulan.
Sebelum 25 tahun, anak pernah bekerja sungguhan, di dalam atau di luar usaha keluarga. Sebelum memegang peran apa pun, ia memahami aturan keluarga dan setuju menjalankannya. Usia ini patokan kasar, karena CFPB sendiri menulis bahwa tiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda.
Tiga hal yang bisa dicoba di rumah
- Tulis aturan uang keluarga dalam satu halaman. Cukup tiga hal: siapa memiliki, siapa memutuskan, dan apa yang harus dikuasai anak sebelum ikut memutuskan mulai usia 13 tahun.
- Beri kepemilikan dulu, kendali belakangan. Anak 7 tahun boleh memiliki tabungannya sendiri, tetapi tiap penarikan untuk keinginan tetap disetujui orang tua.
- Baca satu laporan bersama setiap bulan. Untuk anak SD cukup catatan tabungannya, misalnya masuk Rp50 ribu dan keluar Rp30 ribu; untuk remaja, laporan sederhana usaha keluarga.
Di JarSave, anak memiliki toplesnya sejak awal, orang tua menyetujui setiap keinginan, dan Lifetimeline mencatat prestasi serta rapornya dari tahun ke tahun. Fitur investasi khusus remaja belum tersedia.

