JarSaveBLOG

Quarter life crisis: bekal apa yang bisa disiapkan orang tua sejak anak kecil?

Apa kata riset tentang krisis seperempat abad, kenapa kisah hidup yang runtut membantu, dan tiga kebiasaan kecil yang bisa dimulai bulan ini.

JarSave Team ·

Quarter life crisis adalah masa ragu soal arah hidup, pekerjaan, dan jati diri yang banyak dialami orang di usia 20-an.

Di awal usia 20-an, banyak anak muda tiba-tiba bertanya: aku ini siapa, dan mau ke mana? Pertanyaan itu wajar dan punya nama: quarter life crisis, atau krisis seperempat abad.

Oliver Robinson dari University of Greenwich dan rekan-rekannya (2025) menyurvei 2.247 orang berusia 18 sampai 29 tahun di delapan negara. Angka tertinggi ada di Indonesia: 77,1 persen responden Indonesia mengaku sedang mengalaminya.

Lalu, bekal apa yang bisa disiapkan orang tua sejak anaknya masih kecil?

Apa itu quarter life crisis, dan kapan datangnya?

Psikolog Jeffrey Arnett (2000) menyebut usia 18 sampai 25 tahun sebagai masa dewasa awal yang baru muncul, atau emerging adulthood. Menurutnya, pencarian jati diri paling banyak terjadi di usia ini, bukan di masa remaja.

Robinson, Wright, dan Smith (2013) mewawancarai 50 orang di London yang pernah mengalami krisis ini. Krisisnya muncul di usia 25 sampai 35 tahun, berlangsung setidaknya setahun, dan melewati empat fase: merasa terkunci, melepaskan diri, menjelajah, lalu membangun ulang.

Survei 2025 tadi berbentuk pengakuan sendiri dan sebagian besar respondennya mahasiswa. Angka 77,1 persen menunjukkan betapa umum perasaan ini, bukan diagnosis.

Apa yang membantu anak melewatinya?

Dan McAdams dan Kate McLean (2013) meninjau riset tentang kisah hidup. Orang yang menceritakan hidupnya sebagai kisah bertumbuh, misalnya bangkit setelah gagal, cenderung lebih sehat mentalnya, walau arah sebab-akibatnya belum pasti.

Jonathan Adler (2012) meminta 47 orang dewasa yang menjalani psikoterapi menulis kisah hidupnya 12 kali. Rasa memegang kendali dalam cerita mereka naik lebih dulu, baru kesehatan mentalnya membaik.

Bahan cerita itu bisa dikumpulkan sejak kecil. Dalam uji coba acak terhadap 115 keluarga di Selandia Baru, Elaine Reese dan rekan (2020) melatih ibu mengobrolkan kejadian lampau secara rinci dengan anak prasekolahnya.

Di usia sekitar 11 tahun, anak-anak itu menceritakan masa sulitnya dengan lebih runtut. Albert Bandura (1977) juga mencatat bahwa pengalaman berhasil sendiri adalah sumber keyakinan diri yang sangat berpengaruh.

Tiga hal yang bisa dicoba di rumah

Di JarSave, Lifetimeline mencatat berkas, latihan, dan keinginan anak dari tahun ke tahun. Saat anak berusia 18 tahun, JarSave mengirim seluruh Lifetimeline-nya dalam satu berkas, ke email anak itu sendiri atau ke orang tuanya. Di usia 20-an, ia bisa membacanya ulang atau memberikannya kepada AI yang ia pakai sendiri, untuk lebih mengenal dirinya.

TagRisetTipsFitur JarSave