JarSaveBLOG

THR anak untuk apa, dan siapa yang pegang?

Siapa pemilik uang Lebaran anak, apa peran orang tua, dan cara membaginya untuk belanja, tabungan, dan amal.

JarSave Team ·

THR anak atau salam tempel adalah uang yang diberikan keluarga dan kerabat kepada anak saat Lebaran, biasanya dalam amplop.

Setiap Lebaran, amplop dari kakek, nenek, om, dan tante bisa terkumpul di tangan anak hanya dalam beberapa hari. Wajar kalau orang tua lalu ragu: dibiarkan dipakai, ditabung semua, atau dipegang orang tua?

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK dan BPS tahun 2025 mencatat literasi keuangan remaja 15 sampai 17 tahun hanya 51,68 persen. Angka ini terendah di antara semua kelompok umur.

Uang Lebaran bisa menjadi tempat belajar jauh sebelum usia itu. Lalu, milik siapa uangnya, dan siapa yang menjaganya?

Uang Lebaran milik siapa?

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie, dikutip CNBC Indonesia (2018), berpendapat angpao adalah milik anak yang menerimanya. Ia juga menilai tidak adil bila seluruhnya harus ditabung.

Penelitian memberi alasan lain. Harbaugh, Krause, dan Vesterlund (2001) meneliti 125 anak TK sampai kelas 5. Mereka menilai barang yang sudah dipegang lebih tinggi daripada barang sama yang belum dimiliki.

Artinya, uang yang sudah di tangan lalu diambil kemungkinan besar terasa sebagai kehilangan. Itu bukan pelajaran yang ingin diberikan orang tua.

Lalu orang tua memegang apa?

Orang tua tetap bisa menjadi penjaga, bukan pemilik. Kidd, Palmeri, dan Aslin (2013) menemukan anak mau menunggu lebih lama ketika janji orang dewasa terbukti ditepati.

Uang yang "dipinjam" orang tua karena itu perlu kembali sesuai janji. Kalau tidak, anak belajar bahwa menyimpan uang sama saja dengan kehilangan.

Ghozie juga menyarankan belanja paling banyak 70 persen dan tabungan paling sedikit 20 persen, ditambah sebagian untuk amal. Angka ini pendapat seorang perencana keuangan, bukan hasil penelitian, tetapi cukup jelas untuk dijadikan aturan keluarga.

Untuk apa bagian tabungannya?

Tabungan tanpa tujuan mudah dilupakan anak. Bandura dan Schunk (1981) menemukan target kecil yang dekat membuat anak 7 sampai 10 tahun cepat maju, sementara target jauh tidak berpengaruh.

Bagian yang ditabung lebih bermakna kalau diarahkan ke satu barang yang anak pilih sendiri, dengan foto dan harganya. Bagian amal pun lebih terasa kalau anak sendiri yang memasukkannya ke kotak amal di masjid dekat rumah.

Pilihan tempat menyimpannya dibahas di tabungan anak di bank, celengan, atau aplikasi.

Tiga hal yang bisa dicoba di rumah

Di JarSave, isi toples anak hanya berasal dari usaha, karena prinsipnya hasil usaha, bukan pemberian. THR berbeda: ini uang pemberian, dan justru karena itu cocok untuk belajar membagi.

TagLebaranMenabungRisetTips