Perlukah anak dibayar kalau nilai rapornya bagus?
Temuan uji coba di lebih dari 250 sekolah tentang membayar murid untuk nilai, dan tiga cara memberi imbalan yang lebih masuk akal di rumah.
Imbalan untuk nilai adalah uang atau barang yang dijanjikan orang tua kalau anak mencapai nilai atau peringkat tertentu di rapor.
Menjelang pembagian rapor, sebagian orang tua membuat janji kepada anaknya: masuk tiga besar, dapat sepeda. Ada juga yang memasang tarif, misalnya Rp50 ribu untuk setiap nilai 90.
Niatnya baik, karena anak jadi punya alasan untuk belajar lebih giat. Ekonom Roland Fryer pernah menguji cara ini dalam skala besar, lewat uji coba acak di lebih dari 250 sekolah di Amerika Serikat (Fryer, 2010). Lalu, apakah anak yang dibayar untuk nilai benar-benar belajar lebih baik?
Apa yang terjadi saat murid dibayar untuk nilai?
Di New York, murid kelas 4 bisa mengantongi hingga 250 dolar AS setahun dari nilai tes, dan murid kelas 7 hingga 500 dolar AS. Nilai tes mereka nyaris tidak bergerak.
Di Chicago, murid kelas 9 menerima 50 dolar AS untuk setiap nilai A di rapor. Nilai rapor mereka sedikit naik, tetapi nilai tes membaca dan matematika tetap sama.
Hasil berbeda muncul di Dallas. Sebanyak 3.788 murid kelas 2 ditawari 2 dolar AS untuk setiap buku yang selesai dibaca, asal lulus kuis singkat tentang isinya. Pemahaman bacaan mereka naik dengan jelas, meski di kelas yang dites dalam bahasa Spanyol hasilnya justru turun.
Mengapa nilainya tidak ikut naik?
Tim peneliti Fryer mengikuti 12 murid di New York dan, setelah setiap tes, menanyakan apa yang bisa mereka lakukan supaya dapat uang lebih banyak. Jawabannya seputar cara mengerjakan soal, misalnya membaca soal lebih teliti. Tidak satu pun menyebut membaca buku pelajaran, belajar lebih giat, mengerjakan PR, atau bertanya kepada guru.
Sederhananya, anak mau, tetapi tidak tahu caranya. Nilai adalah hasil akhir, sedangkan membaca satu buku lagi adalah langkah yang bisa dikerjakan hari ini.
Janji di muka juga punya ongkos lain. Edward Deci, Richard Koestner, dan Richard Ryan meninjau 128 eksperimen tentang hadiah (Deci dan kawan-kawan, 1999).
Hadiah uang atau barang yang dijanjikan membuat kegiatan yang tadinya disukai lebih jarang dilakukan atas kemauan sendiri, terutama pada anak. Hadiah yang datang tanpa dijanjikan hampir tidak berpengaruh.
Tiga hal yang bisa dicoba di rumah
- Bayar langkahnya, bukan nilainya. Contohnya Rp2 ribu untuk setiap buku yang selesai dibaca, setelah anak menceritakan isinya dalam tiga kalimat.
- Rayakan rapor tanpa janji sebelumnya. Kalau ingin memberi hadiah, berikan setelah rapor dibagikan dan sebutkan usahanya, misalnya 12 buku yang ia baca semester ini.
- Biarkan hobi tetap jadi hobi. Anak 8 tahun yang senang menggambar tidak perlu dibayar untuk menggambar; bayaran lebih cocok untuk latihan yang ia hindari, misalnya perkalian 15 menit sehari.
Di JarSave, anak mendapat uang dari latihan yang sudah dicek orang tua, sedangkan sertifikat dan rapor dihargai setelah datang, tanpa daftar harga di muka. Nilai bagus tetap layak dirayakan, tetapi yang dibayar sebaiknya langkah yang bisa dikerjakan besok pagi.

